<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Motivasi Diri &#187; Cerita Motivasi</title>
	<atom:link href="http://agussupriatna.com/motivasi/category/cerita-motivasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agussupriatna.com</link>
	<description>AgusSupriatna.com adalah Blog untuk memotivasi diri kita berbagi cerita motivasi dan kata-kata motivasi.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Aug 2010 03:49:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Bosan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/bosan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/bosan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 03:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya. Tamu : &#8220;Sebenarnya apa itu perasaan &#8216;bosan&#8217;, Pak Tua?&#8221; Pak Tua : &#8220;Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.&#8221; Tamu : &#8220;Kenapa kita merasa bosan?&#8221; Pak Tua : &#8220;Karena kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_AhMV1VIQkhs/S6s1YXIBcdI/AAAAAAAAAEQ/PuqUP3jq07M/s1600/kucing_mengobati_rasa_bosan.jpg" alt="" width="220" height="164" /><p class="wp-caption-text">Bosan</p></div>
<p>Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.</p>
<p>Tamu : &#8220;Sebenarnya apa itu perasaan &#8216;bosan&#8217;, Pak Tua?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Kenapa kita merasa bosan?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Bagaimana menghilangkan kebosanan?&#8221;<span id="more-457"></span></p>
<p>Pak Tua : &#8220;Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?&#8221;</p>
<p>Pak Tua: &#8220;Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.&#8221;</p>
<p>Tamu: &#8220;Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.&#8221;</p>
<p>Lalu Tamu itu pun pergi.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.</p>
<p>Tamu : &#8220;Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Contohnya? &#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.&#8221;</p>
<p>Lalu Tamu itu pun pergi.</p>
<p>Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.</p>
<p>Tamu : &#8220;Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?&#8221;</p>
<p>Sambil tersenyum Pak Tua berkata: &#8220;Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/bosan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketulusan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/ketulusan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/ketulusan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 01:09:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ketulusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 249px"><img src="http://queenofsheeba.files.wordpress.com/2008/08/roseb017.jpg" alt="" width="239" height="178" /><p class="wp-caption-text">Ketulusan</p></div>
<p>Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum juga dikaruniai seorang anak pun yang mereka harapkan.</p>
<p>Karenanya walaupun masih saling mencinta, si suami berkeinginan menceraikan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasinya. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sedih dan duka yang mendalam, si istri akhirnya menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.<span id="more-454"></span></p>
<p>Dengan perasaan tidak menentu, suami istri itu menyampaikan rencana perceraian kepada orang tua mereka. Meskipun orang tua mereka tidak setuju, tapi tampaknya keputusan bulat sudah diambil si suami. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan alot, kedua orang tua pasangan itu dengan berat hati menyetujui perceraian tersebut. Tetapi, mereka mengajukan syarat, yakni agar perceraian pasangan suami istri itu diselenggarakan dalam sebuah sebuah pesta yang sama besarnya seperti pesta saat mereka menikah dulu.</p>
<p>Agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan mengadakan pesta perceraian itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Sungguh, itu merupakan pesta yang tidak membahagiakan bagi siapa saja yang hadir dalam pesta itu. Si suami tampak tertekan dan terus meminum arak sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara sang istri tampak terus melamun dan sesekali mengusap air matanya di pipinya. Di sela mabuknya si suami berkata lantang, “Istriku, saat kau pergi nanti. semua barang berharga atau apapun yang kamu suka dan kamu sayangi, Ambillah dan Bawalah !!“. Setelah berkata seperti itu, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.</p>
<p>Keesokan harinya, setelah pesta usai, si suami terbangun dari tidur dengan kepala berdenyut-denyut. Dia merasa tidak mengenali keadaan disekelilingnya selain sosok yang sudah dikenalnya bertahun-tahun yaitu sang istri yang ia cintai. Maka, dia pun bertanya “Ada dimakah aku ? Kenapa ini bukan di kamar kita ? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi ? tolong jelaskan.”</p>
<p>Si istri menatap penuh cinta pada suaminya dengan mata berkaca-kaca dan menjawab, “Suamiku, ini karena dirumah orang tuaku. Kemaren kau bilang didepan semua orang bahwa engkau berkata kepadaku, bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Di dunia ini tidak ada satu barang yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati selain kamu. karena itu kamu sekarang kubawa serta ke rumah orang tuaku. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu.”</p>
<p>Dengan perasaan terkejut setelah sesaat tersadar, si suami bangun dan memeluk istrinya, “Maafkan aku Istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa dalamnya cintamu padaku. Walaupun aku telah menyakitimu, dan berniat menceraikanmu, tetapi engkau masih mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun“.</p>
<p>Akhirnya kedua suami istri ini ini berpelukan dan saling bertangisan. Mereka akhirnya mengikat janji akan tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya</p>
<p>(author : Hareem Musasi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/ketulusan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Baut Kecil</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/sebuah-baut-kecil-2</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/sebuah-baut-kecil-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 16:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!” Teriakan itu didengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 343px"><img src="http://i203.photobucket.com/albums/aa236/fotocopy_photos/baut3.jpg" alt="" width="333" height="181" /><p class="wp-caption-text">Baut Kecil</p></div>
<p>Sebuah baut  kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan  lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi  samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu  membuat ribuan baut lain terancam lepas pula.</p>
<p>Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah  erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!”</p>
<p>Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat  mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut  memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan.<img title="More..." src="http://agussupriatna.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /> Mereka  mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal.  Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan  tenggelam.<span id="more-447"></span></p>
<p>&#8220;Sobat kecil, bertahanlah&#8230; kami mendukungmu&#8230;!&#8221;</p>
<p>Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting  dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun  berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.</p>
<p>(Sumber : Grup Spirit LC)</p>
<p>~~~</p>
<p>Sahabat, Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi  di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja “jatuh”,  bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan  kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya  perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur  sendiri.</p>
<p>Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja  menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi  sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa  dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan?<br />
Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan  bekerjasama menghadapi persoalan?</p>
<p>Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu  anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan  menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah  membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, “Berpeganglah erat-erat!  Tanpa kamu, kami akan tenggelam!”</p>
<p>Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri  kita juga.<br />
(Dari Group Cerita Motivasi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/sebuah-baut-kecil-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengambil Pelajaran dengan Benar</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 10:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Balkhi dan Si Burung Pincang]]></category>
		<category><![CDATA[Mengambil Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan hidup panjang kita,kita akan melihat dan menemukan banyak hal. Apalagi seiring bertambahnya usia, bercengkraman dengan banyak halpun menjadi sebuah keharusan. Tapi kadangkala kita bisa salah dalam mengambil sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan. Maka buatlah hati kita terang agar bisa mengambil sebuah pelajaran dengan benar. Ini adalah kisah tentang mengambil pelajaran yang benar. Alkisah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 264px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_mH2HrKwZzhA/S2Jh9cNTKwI/AAAAAAAAAnc/ksuVWAFteF0/s400/Burung_Gereja_Kaki_Satu.jpg" alt="" width="254" height="156" /><p class="wp-caption-text">Burung Pincang</p></div>
<p>Dalam perjalanan hidup panjang kita,kita akan melihat dan menemukan banyak hal. Apalagi seiring bertambahnya usia, bercengkraman dengan banyak halpun menjadi sebuah keharusan. Tapi kadangkala kita bisa salah dalam mengambil sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan. Maka buatlah hati kita terang agar bisa mengambil sebuah pelajaran dengan benar. Ini adalah kisah tentang mengambil pelajaran yang benar.</p>
<p>Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.<span id="more-430"></span></p>
<p>Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. &#8220;Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?&#8221;<br />
&#8220;Dalam perjalanan&#8221;, jawab al-Balkhi, &#8220;aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan&#8221;<br />
&#8220;Keanehan apa yang kamu maksud?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham penasaran.<br />
&#8220;Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak&#8221;, jawab al-Balkhi menceritakan, &#8220;aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. &#8220;Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tidak lama kemudian&#8221;, lanjut al-Balkhi, &#8220;ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat&#8221;.<br />
&#8220;Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.</p>
<p>&#8220;Maka aku pun berkesimpulan&#8221;, jawab al-Balkhi seraya bergumam, &#8220;bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja&#8221;. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga&#8221;.</p>
<p>Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, &#8220;wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?&#8221;</p>
<p>Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, &#8220;wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik&#8221;. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.</p>
<p>Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma&#8217;dikarib radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: &#8220;Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud &#8216;alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri&#8221; (HR. Bukhari).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin Kesuksesan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/cermin-kesuksesan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/cermin-kesuksesan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 01:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Cermin Kesuksesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan, ada seorang pria yang sedang mengalami masalah bertubi-tubi. Rumah tangganya tidak harmonis. Bersamaan dengan itu, dia pun terkena perampingan karyawan di perusahaannya sehingga dia harus berhenti bekerja. Pada waktu yang senggang, dia berpikir dan mengevaluasi diri. Apa yang salah dengan hidupku? Mengapa aku gagal terus? Bagaimana caranya untuk merubah kegagalan dengan kesuksesan? Dimulailah pencarian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 192px"><img src="http://mata11.files.wordpress.com/2009/05/man-success-sign.jpg" alt="" width="182" height="262" /><p class="wp-caption-text">Kesuksesan</p></div>
<p>Dikisahkan, ada seorang pria yang sedang mengalami masalah bertubi-tubi.  Rumah tangganya tidak harmonis. Bersamaan dengan itu, dia pun terkena  perampingan karyawan di perusahaannya sehingga dia harus berhenti  bekerja.</p>
<p>Pada waktu yang senggang, dia berpikir dan mengevaluasi  diri. Apa yang salah dengan hidupku? Mengapa aku gagal terus? Bagaimana  caranya untuk merubah kegagalan dengan kesuksesan?</p>
<p>Dimulailah  pencarian jawaban atas pertanyaannya dengan pergi ke toko buku dan  membeli buku-buku yang dianggapnya mampu memberi jawaban. Setelah  beberapa buku habis di baca, dia merasa tidak puas dan tidak pula  menemukan jawabannya. Tiba-tiba timbul inspirasi di pikirannya, kenapa  aku tidak menanyakan langsung saja ke penulis buku-buku itu? Pasti akan  lebih berhasil bila aku bisa mendapatkan petunjuk langsung dari si  penulis. Maka ditemuilah si penulis buku.</p>
<p>Setelah menceritakan  semua kegagalan yang dialaminya, dia berkata, “Tuan penulis, tolong  ajarkan kepada saya, rumus dan cara yang bisa membuat saya sukses”. <span id="more-427"></span></p>
<p>Si  penulis pun menjawab, “Kalau anda membaca buku saya dengan teliti, dan  menjalankan dengan nyata , tentu akan ditemukan cara-cara menuju sukses”</p>
<p>”Saya sudah membaca habis, bahkan hafal isi buku anda, tetapi  tetap saja belum menemukan rumus sukses. Oleh karena itu, saya  memutuskan untuk bertanya langsung”.</p>
<p>Si penulis berpikir sejenak  dan berkata, “Baiklah, saya akan ketemukan kamu dengan seseorang. Biar  dia yang memberitahu kamu bagaimana cara sukses dalam hidup ini”.</p>
<p>Dengan  gembira si pria bertanya, “Dimana orang itu bisa saya temui?”</p>
<p>Si  penulis mengajak pria itu ke sebuah kamar, “Dia ada di dalam kamar  ini”.</p>
<p>Maka Pria itu pun mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam  kamar. Namun dia heran karena tidak ada seorangpun di dalam kamar tsb,  yang ada hanya sebuah cermin besar.</p>
<p>Lalu si Penulis berkata,  “Lihatlah ke cermin itu. Orang yang ada di cermin itu adalah sang  penolong yang kamu cari untuk menunjukkan bagaimana caranya meraih  sukses.</p>
<p>Sesungguhnya hanya kamu yang bisa menolong dirimu  sendiri, tanpa kamu berani memulai dari dirimu sendiri untuk berusaha  dan berjuang maka kamu tidak akan meraih sukses!”</p>
<p>Seketika itu  juga si pemuda tersadar, “Terima kasih pak penulis. Saya akan berusaha  lebih tekun dan mengandalkan diri sendiri untuk mempraktekkan teori yang  telah saya dapat dan pelajari!</p>
<p>Sahabat, sungguh kesuksesan bukanlah hanya sebuah teori belaka. Tetapi dia harus diiringi oleh kapasitas dan kualitas diri kita yang senantiasa berkembang. Untuk senantiasa mau berfikir, bergerak dan berjuang. Semoga anda semua bisa mendapatkan kesuksesan yang Ideal menurut anda dan mulailah kesuksesan anda dari sekarang&#8230;</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cermin-kesuksesan" title="motivasi">motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cermin-kesuksesan" title="pengembangan diri">pengembangan diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cermin-kesuksesan" title="Penulis">Penulis</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.204 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/cermin-kesuksesan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>S3 Siapa Takut?</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 16:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mengarungi bahtera kehidupan panjang nan berliku, sudah sepantasnya ada hambatan dan rintangan. Sudah sepantasnya ada pilihan dan keraguan. Tapi terkadang pilihan menjadi keharusan dan pilihan sangat menentukan jadi apa kita dimasa depan. Kadang pilihan terlalu mudah tetapi sangat fundamental bagi kehidupan kita. Sepenggal cerita tentang kehidupan Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 156px"><img title="Wisuda" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:L1vlVHZJieI0pM::1.bp.blogspot.com/__xkdlr1EmT8/ST_1Kj8pqOI/AAAAAAAAAGs/FnuUT6-tAZU/s400/graduation_cap.jpg&amp;t=1&amp;h=225&amp;w=225&amp;usg=__OFWogiJinokpxCnj4GoBqhyuE0U=" alt="" width="146" height="146" /><p class="wp-caption-text">S3 Siapa Takut??</p></div>
<p>Dalam mengarungi bahtera kehidupan panjang nan berliku, sudah sepantasnya ada hambatan dan rintangan. Sudah sepantasnya ada pilihan dan keraguan. Tapi terkadang pilihan menjadi keharusan dan pilihan sangat menentukan jadi apa kita dimasa depan. Kadang pilihan terlalu mudah tetapi sangat fundamental bagi kehidupan kita. Sepenggal cerita tentang kehidupan</p>
<blockquote><p>Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, &#8220;Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos&#8221;. Dan hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya&#8230; mengingat di luar sana berjuta &#8211; juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, &#8220;Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek.&#8221;<span id="more-359"></span></p>
<p>Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. &#8220;Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini&#8230;. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani.&#8221;</p>
<p>Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini&#8230;</p>
<p>Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalam ide nya&#8230;. Pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . &#8220;Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti..&#8221; .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar &#8230; yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. &#8220;Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?&#8221; &#8220;Sejak saya kuliah di ITB , Pak.&#8221; Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,&#8221;Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti.&#8221; Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen&#8230;. Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , &#8220;Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya.&#8221;</p>
<p>Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.</p>
<p>Based on Dr. Hermawan Dipojono story&#8230; Lecture from Physics Engineering, ITB .</p></blockquote>
<p>Hikmah kehidupan apa yang sahabat bisa ambil?</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut" title="cerita motivasi">cerita motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut" title="kata-kata motivasi">kata-kata motivasi</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.324 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Laki-laki Biasa</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Laki-laki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><img src="http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2007/12/morozov-dsc03034.jpg" alt="" width="225" height="167" /><p class="wp-caption-text">Cinta laki-laki biasa</p></div>
<p>Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.</p>
<p>Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.</p>
<p>Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.<span id="more-402"></span></p>
<p>Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!</p>
<p>Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.</p>
<p>Kamu pasti bercanda!</p>
<p>Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.</p>
<p>Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!</p>
<p>Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.</p>
<p>Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!</p>
<p>Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.</p>
<p>Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?</p>
<p>Nania terkesima.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.</p>
<p>Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!</p>
<p>Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!</p>
<p>Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata &#8216;kenapa&#8217; yang barusan Nania lontarkan.</p>
<p>Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.</p>
<p>Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.</p>
<p>Tapi kenapa?</p>
<p>Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.</p>
<p>Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.</p>
<p>Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!</p>
<p>Cukup!</p>
<p>Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?</p>
<p>Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak &#8216;luar biasa&#8217;. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.</p>
<p>Mereka akhirnya menikah.</p>
<p>***</p>
<p>Setahun pernikahan.</p>
<p>Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.</p>
<p>Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.</p>
<p>Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.</p>
<p>Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.</p>
<p>Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.</p>
<p>Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!</p>
<p>Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.</p>
<p>Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.</p>
<p>Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!<br />
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?</p>
<p>Rafli juga pintar!<br />
Tidak sepintarmu, Nania.</p>
<p>Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.</p>
<p>Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.</p>
<p>Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!<br />
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.</p>
<p>Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.</p>
<p>Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.</p>
<p>Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..</p>
<p>Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.</p>
<p>Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!</p>
<p>Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.</p>
<p>Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!</p>
<p>Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.</p>
<p>Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.<br />
Cantik ya? dan kaya!</p>
<p>Tak imbang!</p>
<p>Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.</p>
<p>Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.</p>
<p>Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.</p>
<p>Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!</p>
<p>Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.</p>
<p>Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.</p>
<p>Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.</p>
<p>Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.</p>
<p>Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.</p>
<p>Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.</p>
<p>Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.</p>
<p>Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.</p>
<p>Dokter?</p>
<p>Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.</p>
<p>Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?</p>
<p>Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.</p>
<p>Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.</p>
<p>Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.</p>
<p>Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.</p>
<p>Pendarahan hebat!</p>
<p>Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.</p>
<p>Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.</p>
<p>Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.</p>
<p>Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.</p>
<p>***</p>
<p>Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.</p>
<p>Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.</p>
<p>Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.</p>
<p>Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..</p>
<p>Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.</p>
<p>Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.</p>
<p>Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,</p>
<p>Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.</p>
<p>Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.</p>
<p>Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.</p>
<p>Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.</p>
<p>Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.</p>
<p>Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.</p>
<p>Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.</p>
<p>Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?</p>
<p>Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.</p>
<p>Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.</p>
<p>Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.</p>
<p>Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.</p>
<p>Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!</p>
<p>Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.</p>
<p>Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!</p>
<p>Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.</p>
<p>Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?</p>
<p>Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?</p>
<p>Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.</p>
<p>Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.</p>
<p>Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.</p>
<p>Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..</p>
<p>- Asma Nadia -</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="cerita motivasi">cerita motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="motivasi diri">motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="Perkenalkan diri Anda pada teman Anda abang adik atau guru">Perkenalkan diri Anda pada teman Anda abang adik atau guru</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="kalimat motivasi hidup">kalimat motivasi hidup</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="kata motivasi cinta">kata motivasi cinta</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.433 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Baca yang Keras ya Pa&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 05:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka. Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 266px"><img src="http://syafiiakrom.files.wordpress.com/2009/02/jalan-ke-surga.jpg" alt="" width="256" height="195" /><p class="wp-caption-text">Cerita untuk para orang tua</p></div>
<p>Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka.</p>
<p>Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.</p>
<p>Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, &#8220;Papa lihat!&#8221; John menengok kearahnya dan berkata, &#8220;Wah, buku baru ya?&#8221; &#8220;Ya Papa!&#8221; katanya berseri-seri, &#8220;Bacain dong!&#8221; &#8220;Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh&#8221;, kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.<span id="more-400"></span></p>
<p>Magy hanya berdiri terpaku disamping John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali &#8220;Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy&#8221;. Dengan perasaan agak kesal John menjawab: &#8220;Magy dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya&#8221;. &#8220;Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa&#8221; katanya sendu. &#8220;Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu.&#8221; &#8220;Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan.&#8221;</p>
<p>John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi &#8220;Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka&#8221;. &#8220;Magy, sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!&#8221; dengan agak keras John membentak anaknya.</p>
<p>Hampir menangis Magy mulai menjauh, &#8220;Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali&#8221;. Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata &#8220;Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar&#8221;.</p>
<p>John hanya diam. Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya yang kasar mengatakan: &#8220;Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar&#8221;. Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan.</p>
<p>Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin&#8230;</p>
<p>Berikanlah kasih sayang kapada yang anda cintai saat ini sebelum anda terlambat untuk menyadarinya bahwa anda sudah tidak bisa memberikan kasih sayang tersebut.</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa" title="motivasi diri">motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa" title="artikel motivasi">artikel motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa" title="baca yang keras ya pa">baca yang keras ya pa</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa" title="cerita motivasi menyentuh keluarga">cerita motivasi menyentuh keluarga</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa" title="motivasi keluarga blog">motivasi keluarga blog</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.553 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/baca-yang-keras-ya-pa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bibit Raja</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 14:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu kala, ada seorang raja di daerah Timur yang sudah tua. Ia menyadari bahwa sudah dekat saatnya ia mencari pewaris kerajaannya. Ia tidak mewariskan kerajaannya itu kepada salah satu dari bawahannya ataupun anaknya, tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu hal yang berbeda. Ia memanggil seluruh anak muda di seluruh kerajaannya. Ia berkata, &#8220;Sudah saatnya bagiku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 228px"><img src="http://bptsitubondo.files.wordpress.com/2009/03/bahan-bibit.jpg" alt="" width="218" height="164" /><p class="wp-caption-text">Bibit Raja</p></div>
<p>Dahulu kala, ada seorang raja di daerah Timur yang sudah tua. Ia  menyadari bahwa sudah dekat saatnya ia mencari pewaris kerajaannya. Ia  tidak mewariskan kerajaannya itu kepada salah satu dari bawahannya  ataupun anaknya, tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu hal yang  berbeda. Ia memanggil seluruh anak muda di seluruh kerajaannya. Ia  berkata, &#8220;Sudah saatnya bagiku untuk mengundurkan diri dan memilih raja  yang baru. Aku memutuskan untuk memilih salah satu di antara kalian.&#8221;</p>
<p>Anak-anak muda itu terkejut! Tetapi raja melanjutkan,&#8221;Aku akan  memberikan kalian masing-masing satu bibit hari ini. Satu bibit saja.  Bibit ini sangat istimewa. Aku ingin kalian pulang, menanamnya,  merawatnya dan kembali ke sini lagi tepat 1 tahun dari hari ini dengan  membawa hasil dari bibit yang kuberikan hari ini. Kemudian aku akan  menilai hasil yang kalian bawa, dan seseorang yang aku pilih akan  menjadi raja negeri ini!&#8221;<span id="more-397"></span></p>
<p>Ada seorang anak muda yang bernama Ling yang berada di sana pada hari  itu dan ia, seperti yang lainnya, menerima bibit itu. Ia pulang ke rumah  dan dengan antusias memberitahu ibunya tentang apa yang terjadi. Ibunya  membantu Ling menyediakan pot dan tanah untuk bercocok tanam, dan Ling  menanam bibit itu kemudian menyiraminya dengan hati-hati. Setiap hari ia  selalu menyirami, merawat bibit itu, dan mengamati apakah bibit itu  tumbuh. Setelah beberapa minggu, beberapa dari anak muda itu mulai  membicarakan mengenai bibit mereka dan tanaman yang telah mulai tumbuh.  Ling pulang ke rumah dan memeriksa bibitnya, tetapi tidak ada hasilnya.</p>
<p>Tiga minggu, 4, 5 minggu berlalu. Tetap tidak ada hasilnya. Sekarang  ini, para anak muda memperbincangkan tentang tanaman mereka, tetapi  bibit Ling tetap belum tumbuh, dan ia mulai merasa seperti pecundang.  Enam bulan berlalu, tetap belum tumbuh juga. Ia berpikir bahwa ia telah  membunuh bibit itu. Setiap orang memiliki pohon dan tanaman yang tinggi,  tetapi ia tidak memiliki apa-apa. Ling tidak berkata apa-apa kepada  temannya. Ia tetap menunggu bibitnya tumbuh.</p>
<p>Satu tahun berlalu sudah dan semua anak muda di seluruh kerajaan membawa  tanaman mereka kepada raja untuk dinilai. Ling putus asa dan tidak  ingin pergi dengan membawa pot yang kosong. Tetapi ibunya memberinya  semangat untuk pergi dan membawa potnya. Ling harus jujur mengenai apa  yang terjadi dengan bibit itu, saran ibunya. Ling sadar bahwa saran  ibunya benar. Dan ia pergi ke istana dengan membawa pot yang kosong.  Ketika Ling tiba, ia kagum melihat berbagai macam tanaman yang dibawa  oleh teman-temannya yang lain. Semuanya indah, dalam ukuran dan bentuk.  Ling meletakkan pot yang kosong itu ke lantai dan banyak orang  menertawainya. Beberapa merasa kasihan kepadanya.</p>
<p>Ketika raja datang, ia mengamati ruangan itu dan menyalami rakyatnya.  Ling berusaha untuk bersembunyi di bagian belakang. &#8220;Wah, betapa  indahnya tanaman, pohon, bunga yang kalian bawa,&#8221; kata raja. &#8220;Hari ini,  salah seorang dari kalian akan ditunjuk menjadi raja selanjutnya!&#8221;  Seketika, sang raja melihat Ling di belakang ruangan dengan potnya yang  kosong. Ia memerintahkan pengawalnya untuk membawa Ling ke depan. Ling  sangat ketakutan. &#8220;Sang raja tahu aku seorang pecundang! Mungkin ia akan  memerintahkan aku untuk dihukum!&#8221; Ketika Ling tiba di depan, sang raja  menanyakan namanya. &#8220;Namaku Ling,&#8221; jawab Ling. Semua orang  menertawakannya.</p>
<p>Sang raja menenangkan situasi itu. Ia melihat Ling, dan kemudian  mengumumkan ke seluruh kerajaan, &#8220;Lihatlah, ini raja kalian yang baru!  Namanya adalah Ling!&#8221; Ling tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan  raja. Ia bahkan tidak bisa membuat bibit itu tumbuh, mengapa ia bisa  menjadi raja yang baru?</p>
<p>Kemudian sang raja berkata, &#8220;Satu tahun lalu, aku memberikan setiap  orang sebuah bibit. Dan kukatakan kepada kalian untuk mengambilnya,  menanamnya, dan merawatnya, kemudian membawanya kembali kepadaku hari  ini. Tetapi aku memberikan kalian bibit yang sudah direbus sehingga  tidak akan bisa tumbuh. Kalian semuanya, kecuali Ling, membawakanku  pohon, tanaman, bunga. Ketika kalian menyadari bahwa bibit itu tidak  bisa tumbuh, kalian menukarkan dengan bibit lain. Hanya Ling yang  memiliki keberanian dan kejujuran untuk membawakanku sebuah pot kosong  dengan bibitku di dalamnya. Maka demikian, ia yang akan menjadi raja  yang baru.&#8221;</p>
<p>Sahabatku, mungkin kita akan merasa ketika kita ujur apa adanya akan  merugikan diri kita, sehingga tak heran banyak diantara kita membohongi  dirinya sendiri, dan pada saatnya menyesal atas kebohongan tersebut.  Ingatlah, Allah Maha Melihat, Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan  Hamba-Nya yang bersusah payah untuk jujur, terutama jujur pada diri  sendiri… Wallahua&#8217;lam</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja" title="motivasi">motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja" title="kata motivasi diri">kata motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja" title="kata-kata indah buat motifasi diri">kata-kata indah buat motifasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja" title="motivasi diri">motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja" title="pengembangan diri">pengembangan diri</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.411 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/bibit-raja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Ingin Bercerai</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 08:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus Akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 257px"><img src="http://fazdleeisa.files.wordpress.com/2008/12/tears.jpg" alt="" width="247" height="207" /><p class="wp-caption-text">Aku Ingin Bercerai</p></div>
<p>Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami  dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya  bersandar di bahunya yang bidang.</p>
<p>Dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus Akui, bahwa saya mulai merasa  lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi  sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan  benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat  romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu  tidak pernah saya dapatkan.</p>
<p>Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya  kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis  dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta  yang ideal.</p>
<p>Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya  kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.<span id="more-376"></span></p>
<p>&#8220;Mengapa?&#8221;, dia bertanya dengan terkejut. &#8220;Saya lelah, kamu tidak pernah  bisa memberikan cinta yang saya inginkan&#8221;. Dia terdiam dan termenung  sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang  mengerjakan sesuatu, padahal tidak.</p>
<p>Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat  mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?  Dan akhirnya dia bertanya, &#8220;Apa yang dapat saya lsayakan untuk merubah  pikiranmu?&#8221;.</p>
<p>Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, &#8220;Saya punya  pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya  akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga  indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat  gunung itu, kamu akan mati.</p>
<p>Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?&#8221; Dia termenung dan akhirnya  berkata, &#8220;Saya akan memberikan jawabannya besok.&#8221;. Hati saya langsung  gundah mendengar responnya.</p>
<p>Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar  kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi  susu hangat yang bertuliskan &#8230;</p>
<p>&#8220;Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan  saya untuk menjelaskan alasannya.&#8221; Kalimat pertama ini menghancurkan  hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.</p>
<p>&#8221; Sayang ketika kamu mengetik di komputer lalu program-program di PC-nya  kacau dan akhirnya kau menangis di depan monitor, saya harus memberikan  jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya dan  kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu.</p>
<p>Sayang, kamu juga selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar  rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu,  dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.</p>
<p>Sayang, kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di  tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar  bisa memberikan mata saya untuk menunjukkan jalan kepadamu.</p>
<p>Sayang, kamu selalu sakit dan pegal-pegal pada waktu &#8220;teman baikmu&#8221;  datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk  memijat kakimu yang pegal.</p>
<p>Cinta, ketika kamu sedang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu  akan menjadi &#8220;aneh&#8221;. Maka saya harus membelikan sesuatu yang dapat  menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal  lucu yang saya alami.</p>
<p>Cinta, kamu terlalu sering menatap layar kaca TV dan Komutermu serta  membaca buku sambil tiduran dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu,  maka saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih  dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku  akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati  matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang  bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.</p>
<p>&#8220;Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.  Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi  kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu  lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah  diberikan tanganku, kakiku, matsaya, tidak cukup bagimu. Saya tidak bisa  menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat  membahagiakanmu.&#8221;</p>
<p>Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi  kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.</p>
<p>&#8220;Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika  kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk  tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang  sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas,  sayangku, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barangku, dan saya  tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagia saya bila kau  bahagia.&#8221;</p>
<p>Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu  dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti  kesukaanku.</p>
<p>Aku peluk dia penuh kebahagiaan, oh, kini aku tahu, tidak ada orang yang  pernah mencintai aku lebih dari dia mencintaiku.</p>
<p>Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur  hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan  cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah  hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan  kita, padahal tanpa kita sadari Cinta itu telah terwujud dalam bentuk  yang lain walau tidak sesuai dengan wujud yang kita harapkan</p>
<p>Seringkali kali kita menuntut Cinta kepada pasangan kita, namun jarang  terfikir oleh kita sejauhmana Cinta yang telah kita berikan padanya.  Berikan Cinta Kasih yang tulus kepadanya, kalaupun dia belum membalasnya  yakinlah Allah pasti akan membalas dan membisikkan CintaNYA kepadanya  untuk diberikan kepada kita.</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai" title="motivasi diri">motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai" title="agus supriatna com ingin bercerai">agus supriatna com ingin bercerai</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai" title="artikel motivasi">artikel motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai" title="motivasi hidup lewat cerita lucu">motivasi hidup lewat cerita lucu</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai" title="cerita motivasi cinta">cerita motivasi cinta</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.542 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/aku-ingin-bercerai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
