<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Motivasi Diri &#187; Cerita Motivasi</title>
	<atom:link href="http://agussupriatna.com/motivasi/category/cerita-motivasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agussupriatna.com</link>
	<description>Blog untuk memotivasi diri kita berbagi cerita motivasi dan kata-kata motivasi.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 16:00:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kamu Orang Penting</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/kamu-orang-penting</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/kamu-orang-penting#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 04:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Penting]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Seorang manager memberitahu karyawannya tentang betapa pentingnya ia bagi perusahaan dengan menulis memo berikut: Kamu adalah orang pxnting. Mxskipun mxsin kxtikku modxl kuno, tapi ia dapat kxkxrja dxngan baik, kxcuali satu huruf saja. Kau mungkin bxrfikir bahwa jika sxmua huruf dapat bxkxrja dxngan baik dan hanya satu saja yang rusak, maka tidak ada yang akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_626" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://agussupriatna.com/wp-content/uploads/2011/05/AnagramWorksCardVeryImportantPerson1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-626" title="AnagramWorksCardVeryImportantPerson(1)" src="http://agussupriatna.com/wp-content/uploads/2011/05/AnagramWorksCardVeryImportantPerson1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Kamu Orang Penting</p></div>
<p>Seorang manager memberitahu karyawannya tentang betapa pentingnya ia bagi perusahaan dengan menulis memo berikut:</p>
<p>Kamu adalah orang pxnting.</p>
<p>Mxskipun mxsin kxtikku modxl kuno, tapi ia dapat kxkxrja dxngan baik, kxcuali satu huruf saja.</p>
<p>Kau mungkin bxrfikir bahwa jika sxmua huruf dapat bxkxrja dxngan baik dan hanya satu saja yang rusak, maka tidak ada yang akan mxmpxrhatikannya. Tapi txrnyata kxrusakan pada satu huruf saja dapat mxnghancurkan sxmua usaha yang txlah dirintis.</p>
<p>Kau mungkin bxrbicara dalam hati, “Ahh…, aku hanyalah satu orang. Mustahil ada yang mxmpxrhatikan apabila aku tidak bxrsungguh-sungguh.” Tapi sxsungguhnya hasilnya akan sangat bxrbxda. Sxbab untuk mxmiliki suatu lxmbaga yang xfxktif, suatu organisasi harus didukung olxh sxmua anggotanya dxngan sxgxnap kxmampuan mxrxka.</p>
<p>Jadi, lain kali kau mxnganggap dirimu tidak pxnting, maka ingatlah mxsin kxtik kunoku ini.</p>
<p>Kamu Adalah orang Pxnting.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/kamu-orang-penting/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatikan Setiap Perkataan Anda</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/perhatikan-setiap-perkataan-anda</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/perhatikan-setiap-perkataan-anda#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 03:58:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Pengembangan Diri. Beberapa hari yang lalu, saya sempat chat dengan teman lama saya. Ya awalnya basa-basi saja, tanya kabar dan aktivitas sewajarnya. Tetapi tiba-tiba dia menanyakan sesuatu kepada saya. Bahasan pertanyaannya cukup saya kenal, sehingga dengan mudah saya bisa menjawabnya. Tiba-tiba saja dia menulis dalam chat itu &#8220;Thanks Gus sudah menjawab pertanyaanmu sendiri&#8221;, sontak saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_611" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://agussupriatna.com/wp-content/uploads/2011/03/gelas-dan-kata.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-611" title="gelas-dan-kata" src="http://agussupriatna.com/wp-content/uploads/2011/03/gelas-dan-kata-150x150.jpg" alt="Kata adalah senjata" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Kata adalah senjata</p></div>
<p>Pengembangan Diri. Beberapa hari yang lalu, saya sempat chat dengan teman lama saya. Ya awalnya basa-basi saja, tanya kabar dan aktivitas sewajarnya. Tetapi tiba-tiba dia menanyakan sesuatu kepada saya. Bahasan pertanyaannya cukup saya kenal, sehingga dengan mudah saya bisa menjawabnya.</p>
<p>Tiba-tiba saja dia menulis dalam chat itu &#8220;Thanks Gus sudah menjawab pertanyaanmu sendiri&#8221;, sontak saya bingung dan kaget. Sambil memastikan saya bertanya, &#8220;maksudnya apa?&#8221; Lalu dia menjelaskan &#8221; Ya kamu memberikan pertanyaan ini kepada saya 3 tahun yang lalu, pada waktu itu saya tidak bisa jawab, bahkan sampai saat ini sayapun tidak mengetahui jawabannya, kamu bilang bahwa itu dijadikan Pr saja dan caritahu jawabannya sendiri, untuk mengutkan pemahaman saya. 3 Tahun saya belum bisa menjawab, eh tiba2 kamu OL ya saya sapa dan saya mengingat pertanyaan yang kamu ajukan dulu, jadi saya tanyakan kembali. Ternyata saya bisa mendapatkan jawabannya dari orang yang bertanya juga, whahaha&#8221; <span id="more-610"></span></p>
<p>Hemm sahabat kisah chat saya dengan teman lama saya itu menjadikan pelajaran bagi saya secara personal. Subahanallah betapa besarnya kekuatan dari kata-kata yang keluar dari mulut kita. Bahkan untuk sebuah pertanyaan yang keluar dengan sembarang dari mulut saya dan saya anggap remeh, ternyata masih bisa dengan kuatnya dikenang oleh orang lain.</p>
<p>Alhamdulillahnya yang dikenang adalah pernyataan yang baik dari kita, tapi bayangkan bagaimana jika yang dikenang itu adalah penyataan yang buruk dari kita dan tertanam di hati sesorang dengan sangat lama?</p>
<blockquote><p>Kita tidak pernah tau kata-kata mana yang akan diterima dan di ingat dengan baik oleh lawan bicara kita, maka berusahalah untuk senantiasa menjadikan setiap perkataan kita adalah perkataan yang baik. Sekalipun untuk hal yang remeh, sekalipun dengan teman dekat kita.</p></blockquote>
<p>Sahabat tidaklah salah saat kita meutuskan untuk berkata baik untuk semua hal, maka benar bahwa &#8220;berkatalah yang baik atau diam&#8221;</p>
<p>sumber gambar: <a href="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/01/gelas-dan-kata.jpg">http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/01/gelas-dan-kata.jpg</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/perhatikan-setiap-perkataan-anda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati Setelah Lahirkan Si Kecil</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/mati-setelah-lahirkan-si-kecil</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/mati-setelah-lahirkan-si-kecil#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 22:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Meski tahu harus membayar dengan nyawanya, Donna Blanks asal South Wales tetap mempertahankan kandungannya. Si bayi lahir, Donna pun meninggal. &#8220;Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Donna akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa&#8221; Kisah ini bisa dibilang bukti nyata kalau kasih ibu terhadap anak tiada terkira. Donna Blanks, 32, asal South Wales rela [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 285px"><img src="http://klikbm.files.wordpress.com/2010/04/bayi.jpg" alt="" width="275" height="183" /><p class="wp-caption-text">Kasih Ibu</p></div>
<p>Meski tahu harus membayar dengan nyawanya, Donna Blanks asal South Wales tetap mempertahankan kandungannya. Si bayi lahir, Donna pun meninggal.</p>
<p>&#8220;Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Donna akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa&#8221;</p>
<p>Kisah ini bisa dibilang bukti nyata kalau kasih ibu terhadap anak tiada terkira. Donna Blanks, 32, asal South Wales rela mengorbankan nyawa agar punya anak. Tak hanya itu, Donna juga harus menderita sakit yang tak terkira selama mengandung dan sesudah melahirkan.<span id="more-488"></span></p>
<p>Pasangan Donna dan Gary Thomas telah menunggu lama sebelum akhirnya menyadari kalau mereka akan punya momongan. Setelah penantian 13 tahun, mimpi itu bisa terwujud.</p>
<p>Sayangnya, impian itu dirusak oleh kenyataan kalau Donna akan kehilangan nyawa jika mempertahankan kandungannya. Sebab dokter mendapati kalau Donna mengalami gagal ginjal.</p>
<p>Masalah ginjal itu membuat kehamilan menjadi berbahaya bagi nyawa Donna sendiri. Atas dasar pertimbangan itu, dokter telah meminta agar kandungan Donna digugurkan agar nyawanya selamat.</p>
<p>Usulan aborsi tersebut ditolak oleh Donna. Ia tak mau melepas kesempatan untuk menjadi seorang ibu yang sudah diimpikan selama 13 tahun. Donna pun bertekad untuk melanjutkan kehamilannya, meski tahu kalau bayi yang dilahirkannya harus membayar dengan nyawanya sendiri.</p>
<p>Ibu dari Donna, Sallie (52) yang berasal dari Newport, South Wales mengamini kalau impian Donna adalah menjadi seorang ibu. Menurut Sallie, menjadi seorang ibu adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh Donna seumur hidupnya.</p>
<p>Donna yang berprofesi sebagai perawat telah mengalami masalah medis sejak remaja. Akibatnya Donna pun sempat berpikir kalau dirinya tak akan mampu memiliki momongan.</p>
<p>Ia telah menderita diabetes sejak usia 12 tahu. Kondisinya makin memburuk seiring bertambahnya usia. Kehamilan turut memperparah kondisi tubuh Donna.</p>
<p>&#8220;Karenanya Donna percaya kalau ia mendapat keajaiban ketika hamil. Ia juga berjanji akan mengorbankan segalanya untuk melindungi kehamilannya, termasuk mengorbankan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Ia akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa,&#8221; ucap Sallie.</p>
<p>Kehamilannya sendiri tak mudah. Demi janin yang dikandung, Donna harus berhenti mengkonsumsi obat-obatan untuk masalah ginjal yang dideritanya. Akibatnya, Donna mengalami sakit yang tak tertahankan.</p>
<p>Setelah 27 minggu, Donna mendapatkan impiannya, seorang bayi laki-laki telah lahir. Kebahagiaan Donna dibarengi dengan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk.</p>
<p>Tak hanya itu, bayi yang diberi nama Cade ini lahir prematur dan dokter memprediksi hidup Cade tak akan lama. Dengan berat kurang dari 2,5 kilogram dan masalah pada katup jantung, Cade kecil berjuang untuk terus bertahan hidup.</p>
<p>Segala kemungkinan dijalani agar Cade terus bertahan hidup. Cade harus menjalani operasi jantung untuk menyambung hidup. Ia juga harus kembali naik meja operasi untuk membenahi masalah pada sistem pencernaanya. Malah operasi yang terakhir ini lebih sulit dan kompleks.</p>
<p>Tapi Cade membuktikan dirinya sebagai anak yang kuat. Kondisi Cade semakin membaik dan makin kuat. Sebaliknya, kondisi Donna malah makin lemah dari hari ke hari.</p>
<p>Imbasnya, Donna pun harus menjalani proses cuci darah sebanyak tiga kali seminggu di rumah sakit University of Wales. Ibu dan anak ini dirawat di rumah sakit yang sama, jadi Donna tetap bisa berada di samping Cade ketika di rumah sakit.</p>
<p>Setelah tiga setengah bulan, Cade sudah cukup kuat untuk meninggalkan perawatan dari rumah sakit. Donna pun memutuskan untuk mengubah jenis cuci darah yang dijalani agar bisa menemani Cade di rumah.</p>
<p>“Meski bahagia, kondisi kesehatan Donna terus menurun. Tapi putri saya seorang wanita yang tangguh. Ia tetap merawat Cade dengan bantuan dari kami,” ucap Sallie.</p>
<p>Sebenarnya ada alternatif medis yang bisa dilakukan oleh Donna. Dokter telah menawarkan operasi cangkok ginjal agar nyawa Donna selamat. Bahkan ayah dan kakak Donna, Russel dan Christopher sudah bersedia untuk mendonorkan ginjal mereka. Keduanya adalah donor yang cocok bagi Donna.</p>
<p>Tapi kondisi Donna makin parah. Ia mengalami masalah dengan jantungnya, artinya ia tak bisa langsung menjalani cangkok ginjal begitu saja.</p>
<p>Akhirnya Donna harus kembali dirawat di rumah sakit setelah dokter menyuruhnya untuk menjalani terapi cuci darah yang berbeda jenis.</p>
<p>Terakhir kali Donna bicara pada keluarganya, ia mengatakan kalau dirinya merasa baik-baik saja dan berharap bisa berada di rumah keesokan harinya.</p>
<p>Tapi nasib berkata lain, tanggal 22 September dini hari, pihak rumah sakit mengabarkan Sallie kalau Donna sudah tiada.</p>
<p>Suster mendapati Donna terkena serangan jantung. Setelah 40 menit berjuang untuk menyelamatkan Donna, akhirnya tim dokter pun kalah oleh nasib. Donna secara resmi dinyatakan meninggal.</p>
<p>“Waktu yang kuhabiskan bersama Donna tak cukup lama. Meski tak lama, aku tahu dia wanita yang menakjubkan yang selalu melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain. Dia benar-benar wanita yang sangat langka. Dia akan selalu kuingat,” ucap Gary, pasangan hidup Donna.</p>
<p>Sallie menambahkan kalau dirinya tidak siap untuk kehilangan putri kesayangannya. Meski demikian, Sallie bangga akan perjuangan Donna.</p>
<p>“Kami semua sedih akan kepergian Donna. Cade harus tumbuh tanpa sentuhan seorang ibu,” ucap Sallie.</p>
<p>Sallie turut merawat Cade dan merasa beruntung bisa melihatnya tumbuh besar. Sallie berjanji akan menceritakan semua perjuangan dan betapa mengagumkankannya Donna kepada Cade.</p>
<p>“Saya bisa melihat diri Donna ada dalam Cade. Saya berharap Cade mewarisi sifat dan rambut bergelombang milik Donna yang cantik. Cade pasti akan bangga terhadap ibunya,” imbuh Sallie.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/mati-setelah-lahirkan-si-kecil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pondok Ban Tan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/pondok-bantan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/pondok-bantan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 12:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Ya Nabi salam alaika. . . Ya Rasul salam alaika. . . Ya habibie salam alaika. . . Shalawatullah alaika. . . Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih melafalkan shalawat, khusyuk dan menggema. Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><a href="../wp-content/uploads/2010/10/SurinPitsuwan.jpg"><img title="SurinPitsuwan" src="../wp-content/uploads/2010/10/SurinPitsuwan-206x300.jpg" alt="" width="162" height="236" /></a><p class="wp-caption-text">Surin Pitsuwan</p></div>
<p>Ya Nabi salam alaika. . .<br />
Ya Rasul salam alaika. . .<br />
Ya habibie salam alaika. . .<br />
Shalawatullah alaika. . .</p>
<p>Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih melafalkan shalawat, khusyuk dan menggema.</p>
<p>Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, harus terbang dari Bangkok yang jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat. Lalu, dari bandara yang kecil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman. Masuk di tengah-tengah desa dan perkampungan umat Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Pondok ini dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, yaitu menjaga akidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.<br />
<span id="more-485"></span><br />
Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, yaitu untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini, mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.</p>
<p>Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967, terjadi perdebatan panjang di antara para guru di pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat.</p>
<p>Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian dan di pedalaman Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya, santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa, Kedah, atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi, Amerika? tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu, para guru di pondok terpecah pandangannya: separuh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.</p>
<p>Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri pondok itu, mengatakan, &#8220;Saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istikamah dan saya ikhlas jika dia berangkat.&#8221; Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.</p>
<p>Tahun demi tahun lewat. Dan, dugaan guru-guru pondok itu terjadi: anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.</p>
<p>Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok, dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.</p>
<p>Dia pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya, dia adalah menteri luar negeri Thailand, Muslim pertama yang jadi Menlu di negara berpenduduk mayoritas Budha.</p>
<p>Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.</p>
<p>Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang, seluruh bangunan pondok ini tampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.</p>
<p>Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu &#8216;hadir&#8217; di sini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.</p>
<p>Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.</p>
<p>Ramadhan kemarin, saat kita makan malam-Ifthar bersama-di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin mengundang ke pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke &#8220;Ban-Tan&#8221; lebih utama daripada ke &#8220;Ban-Dung&#8221;.</p>
<p>Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya mengubah jadwal dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya shalat Isya berjamaah duduk disamping Surin. Selesai shalat, ratusan tangan mengulur, semua berebut bersalaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan. Mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.</p>
<p>Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan, dibuatkan panggung untuk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap Melayu, Inggris, dan Arab. Sebagai puncak acara, mereka tampilkan Leke Hulu (Zikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.</p>
<p>Besok paginya, Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya dari Sumatra, tapi dia keturunan Hadramauth.</p>
<p>Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi, dia belum puas. Surin memanggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu manajemen) untuk mengantarkan saya ke masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustaz keturunan Minang.</p>
<p>Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang madrasah yang dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu, dia mengambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.</p>
<p>Sekali lagi, kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi akidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya, dan bagi umatnya.</p>
<p>Di bandara kita berpisah. Saya pulang  kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.</p>
<p>Hari ini, anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga, Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.</p>
<p>Anis Baswedan<br />
(Rektor Univ Paramadina)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/pondok-bantan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disini Jual Ikan Segar</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/disini-jual-ikan-segar</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/disini-jual-ikan-segar#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Sep 2010 00:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang mulai berjualan ikan segar dipasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan &#8220;Disini Jual Ikan Segar&#8221; Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. &#8220;Mengapa kau tuliskan kata ISINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DISINI , bukan DISANA?&#8221; &#8220;Benar juga!&#8221; pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata &#8220;DISINI&#8221; dan tinggallah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><img title="Jual Ikan Segar" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZbSRxhXQpHw/S0PNAkAemeI/AAAAAAAAACw/jND-26_gMLw/s320/penjual_ikan.jpg" alt="Jual Ikan Segar" width="220" height="198" /><p class="wp-caption-text">Jual Ikan Segar</p></div>
<p>Seseorang mulai berjualan ikan segar dipasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan &#8220;Disini Jual Ikan Segar&#8221;</p>
<p>Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. &#8220;Mengapa kau tuliskan kata <img src='http://agussupriatna.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt='<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />' class='wp-smiley' /> ISINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DISINI , bukan DISANA?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar juga!&#8221; pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata &#8220;DISINI&#8221; dan tinggallah tulisan &#8220;JUAL IKAN SEGAR&#8221;.</p>
<p>Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya.</p>
<p>&#8220;Mengapa kau pakai kata SEGAR ? bukankah semua orang sudah tau kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?&#8221;<span id="more-469"></span></p>
<p>&#8220;Benar juga&#8221; pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata &#8220;SEGAR&#8221; dan<br />
tinggallah tulisan &#8220;JUAL IKAN&#8221;</p>
<p>Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan<br />
tulisannya : &#8220;Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tau kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?&#8221;</p>
<p>Benar juga pikir si penjual ikan,, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggalah<br />
tulisan &#8220;IKAN&#8221;</p>
<p>Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya : &#8220;Mengapa kau tulis kata IKAN?, bukankah semua orang sudah tau kalau ini Ikan bukan Daging?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar juga&#8221; pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.</p>
<p>Sahabat, Bila kita ingin memuaskan semua orang, maka yakinlah itu hal yang mustahil&#8230;. atau bahkan kita malah justru merugikan diri sendiri.</p>
<p>Jadi utamakan suara hati anda&#8230; biarlah orang lain berpendapat&#8230;, tapi saringlah, cerna kembali pendapat mereka&#8230; apakah sesuai dengan kata hati anda?&#8230; jika tidak, maka tegaslah tuk mengatakan&#8230; &#8220;Tidak!&#8230; maaf&#8221; <img src='http://agussupriatna.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt='<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/15.gif" style="border:none;background:none;" alt=":)" />' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/disini-jual-ikan-segar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Terbaik</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/yang-terbaik</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/yang-terbaik#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, kadang dalam setiap doa kita, kita selalu memanjatkan doa meminta segalanya yang terbaik. Tetapi saat Tuhan mengabulkan doa kita,kita seringkali kecewa. Berikut adalah kisah nyata dari yang tebaik yang diberikan oleh Tuhan. Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img title="Astronot" src="http://haliemnurhuda.files.wordpress.com/2010/01/1157421425300px-astronot.jpg" alt="" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Astronot</p></div>
<p>Sahabat, kadang dalam setiap doa kita, kita selalu memanjatkan doa meminta segalanya yang terbaik. Tetapi saat Tuhan mengabulkan doa kita,kita seringkali kecewa. Berikut adalah kisah nyata dari yang tebaik yang diberikan oleh Tuhan.</p>
<p>Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.</p>
<p>Namun, sesuatu pun terjadilah. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.<span id="more-462"></span></p>
<p>Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center</p>
<p>Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?</p>
<p>Aku sangat yakin bahwa akulah yang akan terpilih. “ Tuhan, biarlah diriku yang terpilih karena itu adalah anugerah yang terbesar dalam hiduku!” , begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe.</p>
<p>Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam ?</p>
<p>Aku berpaling pada ayahku. Dan katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”</p>
<p>Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? 73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak&#8230; dan menewaskan semua penumpang.</p>
<p>Saat itulah aku menangis, dan perasaan kesal dan marah kepada Tuhan hilang…yang ada adalah perasaan yang sangat bahagia dan tersanjung…bahwa Tuhan benar-benar sayang kepada diriku.</p>
<p>Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….<br />
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.</p>
<p>Ya tidak dikabulkanya keinginan kita bisa jadi yang tebaik bagi kita. Yakinlah bahwa Tuhan lebih tahu dari kita semua. Teruslah kerjar mimpi, jangan pedulikan hasil, yang terpenting adalah proses untuk meraih mimpi kita.</p>
<blockquote><p>&#8221; Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.&#8221; (QS 2:216)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/yang-terbaik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bosan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/bosan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/bosan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 03:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya. Tamu : &#8220;Sebenarnya apa itu perasaan &#8216;bosan&#8217;, Pak Tua?&#8221; Pak Tua : &#8220;Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.&#8221; Tamu : &#8220;Kenapa kita merasa bosan?&#8221; Pak Tua : &#8220;Karena kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_AhMV1VIQkhs/S6s1YXIBcdI/AAAAAAAAAEQ/PuqUP3jq07M/s1600/kucing_mengobati_rasa_bosan.jpg" alt="" width="220" height="164" /><p class="wp-caption-text">Bosan</p></div>
<p>Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.</p>
<p>Tamu : &#8220;Sebenarnya apa itu perasaan &#8216;bosan&#8217;, Pak Tua?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Kenapa kita merasa bosan?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Bagaimana menghilangkan kebosanan?&#8221;<span id="more-457"></span></p>
<p>Pak Tua : &#8220;Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?&#8221;</p>
<p>Pak Tua: &#8220;Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.&#8221;</p>
<p>Tamu: &#8220;Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.&#8221;</p>
<p>Lalu Tamu itu pun pergi.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.</p>
<p>Tamu : &#8220;Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?&#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.&#8221;</p>
<p>Tamu : &#8220;Contohnya? &#8221;</p>
<p>Pak Tua : &#8220;Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.&#8221;</p>
<p>Lalu Tamu itu pun pergi.</p>
<p>Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.</p>
<p>Tamu : &#8220;Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?&#8221;</p>
<p>Sambil tersenyum Pak Tua berkata: &#8220;Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/bosan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketulusan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/ketulusan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/ketulusan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 01:09:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ketulusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 249px"><img src="http://queenofsheeba.files.wordpress.com/2008/08/roseb017.jpg" alt="" width="239" height="178" /><p class="wp-caption-text">Ketulusan</p></div>
<p>Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum juga dikaruniai seorang anak pun yang mereka harapkan.</p>
<p>Karenanya walaupun masih saling mencinta, si suami berkeinginan menceraikan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasinya. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sedih dan duka yang mendalam, si istri akhirnya menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.<span id="more-454"></span></p>
<p>Dengan perasaan tidak menentu, suami istri itu menyampaikan rencana perceraian kepada orang tua mereka. Meskipun orang tua mereka tidak setuju, tapi tampaknya keputusan bulat sudah diambil si suami. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan alot, kedua orang tua pasangan itu dengan berat hati menyetujui perceraian tersebut. Tetapi, mereka mengajukan syarat, yakni agar perceraian pasangan suami istri itu diselenggarakan dalam sebuah sebuah pesta yang sama besarnya seperti pesta saat mereka menikah dulu.</p>
<p>Agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan mengadakan pesta perceraian itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Sungguh, itu merupakan pesta yang tidak membahagiakan bagi siapa saja yang hadir dalam pesta itu. Si suami tampak tertekan dan terus meminum arak sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara sang istri tampak terus melamun dan sesekali mengusap air matanya di pipinya. Di sela mabuknya si suami berkata lantang, “Istriku, saat kau pergi nanti. semua barang berharga atau apapun yang kamu suka dan kamu sayangi, Ambillah dan Bawalah !!“. Setelah berkata seperti itu, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.</p>
<p>Keesokan harinya, setelah pesta usai, si suami terbangun dari tidur dengan kepala berdenyut-denyut. Dia merasa tidak mengenali keadaan disekelilingnya selain sosok yang sudah dikenalnya bertahun-tahun yaitu sang istri yang ia cintai. Maka, dia pun bertanya “Ada dimakah aku ? Kenapa ini bukan di kamar kita ? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi ? tolong jelaskan.”</p>
<p>Si istri menatap penuh cinta pada suaminya dengan mata berkaca-kaca dan menjawab, “Suamiku, ini karena dirumah orang tuaku. Kemaren kau bilang didepan semua orang bahwa engkau berkata kepadaku, bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Di dunia ini tidak ada satu barang yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati selain kamu. karena itu kamu sekarang kubawa serta ke rumah orang tuaku. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu.”</p>
<p>Dengan perasaan terkejut setelah sesaat tersadar, si suami bangun dan memeluk istrinya, “Maafkan aku Istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa dalamnya cintamu padaku. Walaupun aku telah menyakitimu, dan berniat menceraikanmu, tetapi engkau masih mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun“.</p>
<p>Akhirnya kedua suami istri ini ini berpelukan dan saling bertangisan. Mereka akhirnya mengikat janji akan tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya</p>
<p>(author : Hareem Musasi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/ketulusan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Baut Kecil</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/sebuah-baut-kecil-2</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/sebuah-baut-kecil-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 16:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!” Teriakan itu didengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 343px"><img src="http://i203.photobucket.com/albums/aa236/fotocopy_photos/baut3.jpg" alt="" width="333" height="181" /><p class="wp-caption-text">Baut Kecil</p></div>
<p>Sebuah baut  kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan  lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi  samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu  membuat ribuan baut lain terancam lepas pula.</p>
<p>Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah  erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!”</p>
<p>Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat  mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut  memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan.<img title="More..." src="http://agussupriatna.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /> Mereka  mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal.  Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan  tenggelam.<span id="more-447"></span></p>
<p>&#8220;Sobat kecil, bertahanlah&#8230; kami mendukungmu&#8230;!&#8221;</p>
<p>Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting  dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun  berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.</p>
<p>(Sumber : Grup Spirit LC)</p>
<p>~~~</p>
<p>Sahabat, Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi  di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja “jatuh”,  bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan  kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya  perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur  sendiri.</p>
<p>Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja  menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi  sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa  dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan?<br />
Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan  bekerjasama menghadapi persoalan?</p>
<p>Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu  anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan  menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah  membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, “Berpeganglah erat-erat!  Tanpa kamu, kami akan tenggelam!”</p>
<p>Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri  kita juga.<br />
(Dari Group Cerita Motivasi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/sebuah-baut-kecil-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengambil Pelajaran dengan Benar</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 10:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Balkhi dan Si Burung Pincang]]></category>
		<category><![CDATA[Mengambil Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan hidup panjang kita,kita akan melihat dan menemukan banyak hal. Apalagi seiring bertambahnya usia, bercengkraman dengan banyak halpun menjadi sebuah keharusan. Tapi kadangkala kita bisa salah dalam mengambil sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan. Maka buatlah hati kita terang agar bisa mengambil sebuah pelajaran dengan benar. Ini adalah kisah tentang mengambil pelajaran yang benar. Alkisah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 264px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_mH2HrKwZzhA/S2Jh9cNTKwI/AAAAAAAAAnc/ksuVWAFteF0/s400/Burung_Gereja_Kaki_Satu.jpg" alt="" width="254" height="156" /><p class="wp-caption-text">Burung Pincang</p></div>
<p>Dalam perjalanan hidup panjang kita,kita akan melihat dan menemukan banyak hal. Apalagi seiring bertambahnya usia, bercengkraman dengan banyak halpun menjadi sebuah keharusan. Tapi kadangkala kita bisa salah dalam mengambil sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan. Maka buatlah hati kita terang agar bisa mengambil sebuah pelajaran dengan benar. Ini adalah kisah tentang mengambil pelajaran yang benar.</p>
<p>Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.<span id="more-430"></span></p>
<p>Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. &#8220;Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?&#8221;<br />
&#8220;Dalam perjalanan&#8221;, jawab al-Balkhi, &#8220;aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan&#8221;<br />
&#8220;Keanehan apa yang kamu maksud?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham penasaran.<br />
&#8220;Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak&#8221;, jawab al-Balkhi menceritakan, &#8220;aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. &#8220;Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tidak lama kemudian&#8221;, lanjut al-Balkhi, &#8220;ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat&#8221;.<br />
&#8220;Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.</p>
<p>&#8220;Maka aku pun berkesimpulan&#8221;, jawab al-Balkhi seraya bergumam, &#8220;bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja&#8221;. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga&#8221;.</p>
<p>Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, &#8220;wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?&#8221;</p>
<p>Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, &#8220;wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik&#8221;. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.</p>
<p>Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma&#8217;dikarib radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: &#8220;Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud &#8216;alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri&#8221; (HR. Bukhari).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

