<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Motivasi Diri &#187; Tausiyah</title>
	<atom:link href="http://agussupriatna.com/motivasi/category/tausiyah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agussupriatna.com</link>
	<description>Blog untuk memotivasi diri kita berbagi cerita motivasi dan kata-kata motivasi.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 16:00:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kamu Orang Penting</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/kamu-orang-penting</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/kamu-orang-penting#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 04:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Penting]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Seorang manager memberitahu karyawannya tentang betapa pentingnya ia bagi perusahaan dengan menulis memo berikut: Kamu adalah orang pxnting. Mxskipun mxsin kxtikku modxl kuno, tapi ia dapat kxkxrja dxngan baik, kxcuali satu huruf saja. Kau mungkin bxrfikir bahwa jika sxmua huruf dapat bxkxrja dxngan baik dan hanya satu saja yang rusak, maka tidak ada yang akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_626" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://agussupriatna.com/wp-content/uploads/2011/05/AnagramWorksCardVeryImportantPerson1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-626" title="AnagramWorksCardVeryImportantPerson(1)" src="http://agussupriatna.com/wp-content/uploads/2011/05/AnagramWorksCardVeryImportantPerson1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Kamu Orang Penting</p></div>
<p>Seorang manager memberitahu karyawannya tentang betapa pentingnya ia bagi perusahaan dengan menulis memo berikut:</p>
<p>Kamu adalah orang pxnting.</p>
<p>Mxskipun mxsin kxtikku modxl kuno, tapi ia dapat kxkxrja dxngan baik, kxcuali satu huruf saja.</p>
<p>Kau mungkin bxrfikir bahwa jika sxmua huruf dapat bxkxrja dxngan baik dan hanya satu saja yang rusak, maka tidak ada yang akan mxmpxrhatikannya. Tapi txrnyata kxrusakan pada satu huruf saja dapat mxnghancurkan sxmua usaha yang txlah dirintis.</p>
<p>Kau mungkin bxrbicara dalam hati, “Ahh…, aku hanyalah satu orang. Mustahil ada yang mxmpxrhatikan apabila aku tidak bxrsungguh-sungguh.” Tapi sxsungguhnya hasilnya akan sangat bxrbxda. Sxbab untuk mxmiliki suatu lxmbaga yang xfxktif, suatu organisasi harus didukung olxh sxmua anggotanya dxngan sxgxnap kxmampuan mxrxka.</p>
<p>Jadi, lain kali kau mxnganggap dirimu tidak pxnting, maka ingatlah mxsin kxtik kunoku ini.</p>
<p>Kamu Adalah orang Pxnting.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/kamu-orang-penting/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadapilah Masalah</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/hadapilah-masalah</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/hadapilah-masalah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 08:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu belakangan ini saya jarang update blog saya ini. Hemm entah kenapa mulai kurang produktif untuk menulis, baik di blog, facebook ataupun di milist-milist yang saya ikuti. Mungkin ini akibat dari beberapa hal yang saya dapatkan belakangan ini. Sungguh Allah masih sangat sayang dengan saya. Sehingga saya masih bisa diberikan beberapa tantangan dalam hidup. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 244px"><img title="Masalah" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS0N-3rnfkTJXCu7cSbszmjr-oZGs9h1EeOOMdMJfhKx6WV7vIO&amp;t=1" alt="" width="234" height="216" /><p class="wp-caption-text">Selesaikan Masalah</p></div>
<p>Beberapa waktu belakangan ini saya jarang update blog saya ini. Hemm entah kenapa mulai kurang produktif untuk menulis, baik di blog, facebook ataupun di milist-milist yang saya ikuti. Mungkin ini akibat dari beberapa hal yang saya dapatkan belakangan ini. Sungguh Allah masih sangat sayang dengan saya. Sehingga saya masih bisa diberikan beberapa tantangan dalam hidup.</p>
<p>Ya Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa masalah yang bisa dijadikan pembelajaran dalam hidup saya dan sekaligus pembelajaran untuk bisa senantisa meningkatkan kualitas dan kapasitas diri saya.</p>
<p>Senang rasanya bisa masuk lagi ke dashboard blog ini dan menulis kembali.</p>
<p>Sahabat sesungguhnya setiap perjalanan hidup kita pasti mendapatkan masalah, bohong sekali jika dalam hidup ini kita sama sekali tidak mendapatkan masalah. Jika itu terjadi pada anda (tidak mendapatkan masalah), coba perikasa kembali apakah kita benar-benar hidup?? Hehehe,, maksudnya apakah kita telah benar-benar mengjar sesuatu? Jika jawabannya pasti kita akan mendapatkan tantangan dalam pengejaran kita.<span id="more-570"></span></p>
<p>Satu hal yang selalu saya pengang sahabat,setiap saya mendapatkan sebuah masalah (saya lebih suka menyebutnya sebuah tantangan), saya selalu meyakini bahwa Allah tidak akan menguji kita melebihi dari batas kemampuan kita. Artinya apa sobat? Artinya MASALAH ITU PASTI BISA KITA ATASI (sengaja saya tulis besar-besar). Ya, masalah itu pasti selalu bisa kita atasi.</p>
<p>Masalahnya adalah  apakah kita mau menyelesaikan masalah itu ataukah kita malah menghindar dan membiarkan malalah itu berlarut-larut. Masalah yang dibiarkan berlarut-larut akan membuat masalah itu semakin besar dan pada akhirnya kita merasa sangat terbebani dengan masalah itu.</p>
<p>Selesaikanlah masalah itu wahai sobat, seberat apapun kita pasti bisa menyelesaikannya. Ada banyak hikmah yang akan membuat kita semakin dewasa. Ada banyak pelajaran yang akan menjadikan diri kita bijak. Ada banyak tantangan yang akan memberikan kita kepuasan, bukankah kulitas diri kita senantiasa bisa kita ukur melalui apa yang telah kita selsaikan, termasuk masalah kita dan itu menjadi trad record kita.</p>
<p>Jangan jadi PENGECUT yang kalah oleh masalah kita sendiri, apalagi masalah itu datang akibat dari tindakan kita di masa lalu. Hadapilah dengan JANTAN sehingga kita puas dengan terselesaikannya masalah kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/hadapilah-masalah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daun Kecil</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/daun-kecil</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/daun-kecil#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 10:21:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi dunia yang luas ini? Jangankan dunia, menutupi telapak tangan saja sulit. Namun bila daun kecil ini menempel di matamu maka tertutuplah dunia! Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk maka kamu akan melihat keburukan dimana2. Dunia yang besar ini pun akan tampak buruk. Jangan menutupi matamu walaupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 182px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_SnXazWyDMGc/S8C2MDJSJtI/AAAAAAAAABI/2oRV8skytYs/s1600/daun.jpg" alt="" width="172" height="172" /><p class="wp-caption-text">Daun Kecil</p></div>
<p>Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi dunia yang luas ini?<br />
Jangankan dunia, menutupi telapak tangan saja sulit.<br />
Namun bila daun kecil ini menempel di matamu maka tertutuplah dunia!<br />
Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk maka kamu akan melihat keburukan dimana2.<br />
Dunia yang besar ini pun akan tampak buruk.<br />
Jangan menutupi matamu walaupun hanya dengan daun yang kecil.<br />
Jangan menutupi hatimu walaupun hanya dengan sebuah pikiran yg negatif!<br />
Bila hatimu tertutup, maka tertutuplah dunia..<br />
Karna itu bukalah mata hatimu.. Dan kau akan melihat dunia yg indah&#8230;.?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/daun-kecil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pondok Ban Tan</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/pondok-bantan</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/pondok-bantan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 12:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Ya Nabi salam alaika. . . Ya Rasul salam alaika. . . Ya habibie salam alaika. . . Shalawatullah alaika. . . Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih melafalkan shalawat, khusyuk dan menggema. Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><a href="../wp-content/uploads/2010/10/SurinPitsuwan.jpg"><img title="SurinPitsuwan" src="../wp-content/uploads/2010/10/SurinPitsuwan-206x300.jpg" alt="" width="162" height="236" /></a><p class="wp-caption-text">Surin Pitsuwan</p></div>
<p>Ya Nabi salam alaika. . .<br />
Ya Rasul salam alaika. . .<br />
Ya habibie salam alaika. . .<br />
Shalawatullah alaika. . .</p>
<p>Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih melafalkan shalawat, khusyuk dan menggema.</p>
<p>Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, harus terbang dari Bangkok yang jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat. Lalu, dari bandara yang kecil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman. Masuk di tengah-tengah desa dan perkampungan umat Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Pondok ini dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, yaitu menjaga akidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.<br />
<span id="more-485"></span><br />
Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, yaitu untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini, mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.</p>
<p>Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967, terjadi perdebatan panjang di antara para guru di pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat.</p>
<p>Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian dan di pedalaman Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya, santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa, Kedah, atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi, Amerika? tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu, para guru di pondok terpecah pandangannya: separuh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.</p>
<p>Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri pondok itu, mengatakan, &#8220;Saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istikamah dan saya ikhlas jika dia berangkat.&#8221; Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.</p>
<p>Tahun demi tahun lewat. Dan, dugaan guru-guru pondok itu terjadi: anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.</p>
<p>Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok, dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.</p>
<p>Dia pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya, dia adalah menteri luar negeri Thailand, Muslim pertama yang jadi Menlu di negara berpenduduk mayoritas Budha.</p>
<p>Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.</p>
<p>Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang, seluruh bangunan pondok ini tampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.</p>
<p>Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu &#8216;hadir&#8217; di sini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.</p>
<p>Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.</p>
<p>Ramadhan kemarin, saat kita makan malam-Ifthar bersama-di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin mengundang ke pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke &#8220;Ban-Tan&#8221; lebih utama daripada ke &#8220;Ban-Dung&#8221;.</p>
<p>Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya mengubah jadwal dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya shalat Isya berjamaah duduk disamping Surin. Selesai shalat, ratusan tangan mengulur, semua berebut bersalaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan. Mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.</p>
<p>Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan, dibuatkan panggung untuk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap Melayu, Inggris, dan Arab. Sebagai puncak acara, mereka tampilkan Leke Hulu (Zikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.</p>
<p>Besok paginya, Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya dari Sumatra, tapi dia keturunan Hadramauth.</p>
<p>Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi, dia belum puas. Surin memanggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu manajemen) untuk mengantarkan saya ke masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustaz keturunan Minang.</p>
<p>Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang madrasah yang dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu, dia mengambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.</p>
<p>Sekali lagi, kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi akidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya, dan bagi umatnya.</p>
<p>Di bandara kita berpisah. Saya pulang  kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.</p>
<p>Hari ini, anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga, Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.</p>
<p>Anis Baswedan<br />
(Rektor Univ Paramadina)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/pondok-bantan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Terbaik</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/yang-terbaik</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/yang-terbaik#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, kadang dalam setiap doa kita, kita selalu memanjatkan doa meminta segalanya yang terbaik. Tetapi saat Tuhan mengabulkan doa kita,kita seringkali kecewa. Berikut adalah kisah nyata dari yang tebaik yang diberikan oleh Tuhan. Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img title="Astronot" src="http://haliemnurhuda.files.wordpress.com/2010/01/1157421425300px-astronot.jpg" alt="" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Astronot</p></div>
<p>Sahabat, kadang dalam setiap doa kita, kita selalu memanjatkan doa meminta segalanya yang terbaik. Tetapi saat Tuhan mengabulkan doa kita,kita seringkali kecewa. Berikut adalah kisah nyata dari yang tebaik yang diberikan oleh Tuhan.</p>
<p>Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.</p>
<p>Namun, sesuatu pun terjadilah. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.<span id="more-462"></span></p>
<p>Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center</p>
<p>Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?</p>
<p>Aku sangat yakin bahwa akulah yang akan terpilih. “ Tuhan, biarlah diriku yang terpilih karena itu adalah anugerah yang terbesar dalam hiduku!” , begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe.</p>
<p>Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam ?</p>
<p>Aku berpaling pada ayahku. Dan katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”</p>
<p>Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? 73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak&#8230; dan menewaskan semua penumpang.</p>
<p>Saat itulah aku menangis, dan perasaan kesal dan marah kepada Tuhan hilang…yang ada adalah perasaan yang sangat bahagia dan tersanjung…bahwa Tuhan benar-benar sayang kepada diriku.</p>
<p>Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….<br />
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.</p>
<p>Ya tidak dikabulkanya keinginan kita bisa jadi yang tebaik bagi kita. Yakinlah bahwa Tuhan lebih tahu dari kita semua. Teruslah kerjar mimpi, jangan pedulikan hasil, yang terpenting adalah proses untuk meraih mimpi kita.</p>
<blockquote><p>&#8221; Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.&#8221; (QS 2:216)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/yang-terbaik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maher Zain &#8211; Open Your Eyes</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/maher-zain-open-your-eyes</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/maher-zain-open-your-eyes#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 16:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Open Your Eyes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah video yang bisa menjadi renungan kita bersama bahwa sesungguhnya manusia itu sangatlah kecil. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama. Nih saya kasih liriknya Look around yourselves Can&#8217;t you see this wonder Spreaded in front of you The clouds floating by The skies are clear and blue Planets in the orbits The moon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah sebuah video yang bisa menjadi renungan kita bersama bahwa sesungguhnya manusia itu sangatlah kecil. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama.<br />
<object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/4c6Z_F6XmSA&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.youtube.com/v/4c6Z_F6XmSA&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object><br />
<span id="more-411"></span></p>
<p>Nih saya kasih liriknya</p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Look around yourselves<br />
Can&#8217;t  you see this wonder<br />
Spreaded in front of  you<br />
The clouds floating  by<br />
The skies are clear and blue<br />
Planets in the orbits<br />
The moon  and the sun<br />
Such perfect harmony<br />
Lets start question in ourselves<br />
Isn&#8217;t  this proof enough for us<br />
Or are we so blind<br />
The push it all  aside..<br />
NO&#8230;&#8230;</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">&#8220;*&#8221;<br />
We just have to<br />
Open our eyes, our  hearts, and minds<br />
If we just look bright to see the signs<br />
We can&#8217;t  keep hiding from the truth<br />
Let it take us by surprise</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Take us  in the best way<br />
(Allah)</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Guide us every single day&#8230;<br />
(Allah)</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Keep  us close to you<br />
Until the end of time&#8230;</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Look inside  yourselves<br />
Such a perfect order<br />
Hiding in yourselves<br />
Running  in your veins<br />
What about anger love and pain<br />
And all the things  you&#8217;re feeling<br />
Can you touch them with your hand?<br />
So are they  really there?<br />
Lets start question in ourselves<br />
Isn&#8217;t this proof  enough for us<br />
Or are we so blind<br />
The push it all aside<br />
NO&#8230;&#8230;&#8230;.</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Repeat  &#8220;*&#8221;</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">When a baby&#8217;s born<br />
So helpless and weak<br />
And you&#8217;re  watching him growing..<br />
So why deny<br />
Whats in front of your eyes<br />
The  biggest miracle of life..</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Repeat &#8220;*&#8221;</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">Allah&#8230;</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">You  created everything<br />
We belong to yo0u<br />
YA RAB we raise our hands<br />
Forever  we thank you</a></p>
<p><a onclick="new InlineEditor(this, &quot;attachment[params][summary]&quot;,  $(&quot;stage4c1f09942bb5d583eddeb&quot<img src="http://agussupriatna.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/13.gif" style="border:none;background:none;" alt=";)" />, null, true); return false;">&#8230;..Alhamdulillah&#8230;&#8230;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/maher-zain-open-your-eyes/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengambil Pelajaran dengan Benar</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 10:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Balkhi dan Si Burung Pincang]]></category>
		<category><![CDATA[Mengambil Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan hidup panjang kita,kita akan melihat dan menemukan banyak hal. Apalagi seiring bertambahnya usia, bercengkraman dengan banyak halpun menjadi sebuah keharusan. Tapi kadangkala kita bisa salah dalam mengambil sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan. Maka buatlah hati kita terang agar bisa mengambil sebuah pelajaran dengan benar. Ini adalah kisah tentang mengambil pelajaran yang benar. Alkisah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 264px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_mH2HrKwZzhA/S2Jh9cNTKwI/AAAAAAAAAnc/ksuVWAFteF0/s400/Burung_Gereja_Kaki_Satu.jpg" alt="" width="254" height="156" /><p class="wp-caption-text">Burung Pincang</p></div>
<p>Dalam perjalanan hidup panjang kita,kita akan melihat dan menemukan banyak hal. Apalagi seiring bertambahnya usia, bercengkraman dengan banyak halpun menjadi sebuah keharusan. Tapi kadangkala kita bisa salah dalam mengambil sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan. Maka buatlah hati kita terang agar bisa mengambil sebuah pelajaran dengan benar. Ini adalah kisah tentang mengambil pelajaran yang benar.</p>
<p>Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.<span id="more-430"></span></p>
<p>Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. &#8220;Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?&#8221;<br />
&#8220;Dalam perjalanan&#8221;, jawab al-Balkhi, &#8220;aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan&#8221;<br />
&#8220;Keanehan apa yang kamu maksud?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham penasaran.<br />
&#8220;Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak&#8221;, jawab al-Balkhi menceritakan, &#8220;aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. &#8220;Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tidak lama kemudian&#8221;, lanjut al-Balkhi, &#8220;ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat&#8221;.<br />
&#8220;Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.</p>
<p>&#8220;Maka aku pun berkesimpulan&#8221;, jawab al-Balkhi seraya bergumam, &#8220;bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja&#8221;. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga&#8221;.</p>
<p>Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, &#8220;wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?&#8221;</p>
<p>Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, &#8220;wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik&#8221;. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.</p>
<p>Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma&#8217;dikarib radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: &#8220;Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud &#8216;alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri&#8221; (HR. Bukhari).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/mengambil-pelajaran-dengan-benar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>S3 Siapa Takut?</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 16:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mengarungi bahtera kehidupan panjang nan berliku, sudah sepantasnya ada hambatan dan rintangan. Sudah sepantasnya ada pilihan dan keraguan. Tapi terkadang pilihan menjadi keharusan dan pilihan sangat menentukan jadi apa kita dimasa depan. Kadang pilihan terlalu mudah tetapi sangat fundamental bagi kehidupan kita. Sepenggal cerita tentang kehidupan Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 156px"><img title="Wisuda" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:L1vlVHZJieI0pM::1.bp.blogspot.com/__xkdlr1EmT8/ST_1Kj8pqOI/AAAAAAAAAGs/FnuUT6-tAZU/s400/graduation_cap.jpg&amp;t=1&amp;h=225&amp;w=225&amp;usg=__OFWogiJinokpxCnj4GoBqhyuE0U=" alt="" width="146" height="146" /><p class="wp-caption-text">S3 Siapa Takut??</p></div>
<p>Dalam mengarungi bahtera kehidupan panjang nan berliku, sudah sepantasnya ada hambatan dan rintangan. Sudah sepantasnya ada pilihan dan keraguan. Tapi terkadang pilihan menjadi keharusan dan pilihan sangat menentukan jadi apa kita dimasa depan. Kadang pilihan terlalu mudah tetapi sangat fundamental bagi kehidupan kita. Sepenggal cerita tentang kehidupan</p>
<blockquote><p>Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, &#8220;Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos&#8221;. Dan hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya&#8230; mengingat di luar sana berjuta &#8211; juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, &#8220;Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek.&#8221;<span id="more-359"></span></p>
<p>Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. &#8220;Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini&#8230;. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani.&#8221;</p>
<p>Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini&#8230;</p>
<p>Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalam ide nya&#8230;. Pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . &#8220;Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti..&#8221; .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar &#8230; yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. &#8220;Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?&#8221; &#8220;Sejak saya kuliah di ITB , Pak.&#8221; Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,&#8221;Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti.&#8221; Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen&#8230;. Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , &#8220;Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya.&#8221;</p>
<p>Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.</p>
<p>Based on Dr. Hermawan Dipojono story&#8230; Lecture from Physics Engineering, ITB .</p></blockquote>
<p>Hikmah kehidupan apa yang sahabat bisa ambil?</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut" title="cerita motivasi">cerita motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut" title="kata-kata motivasi">kata-kata motivasi</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.441 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/s3-siapa-takut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Seperti PENSIL</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 05:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Pensil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu PENSIL yang nenek pakai. Nenek harap kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 180px"><img src="http://fitrahfitri.files.wordpress.com/2009/12/pensil.jpg" alt="" width="170" height="237" /><p class="wp-caption-text">Jadilah seperti Pensil</p></div>
<p>Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.</p>
<p>“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”</p>
<p>Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,</p>
<p>“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu PENSIL yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.</p>
<p>Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.</p>
<p>“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.<span id="more-408"></span></p>
<p>Si nenek kemudian menjawab,</p>
<p>“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,</p>
<p>Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.</p>
<p>Pertama:</p>
<p>Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.</p>
<p>Kedua:</p>
<p>Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.</p>
<p>Ketiga:</p>
<p>Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.</p>
<p>Keempat:</p>
<p>Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.</p>
<p>Kelima:</p>
<p>Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil" title="artikel motivasi">artikel motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil" title="motivasi diri">motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil" title="5 a pengembangan diri">5 a pengembangan diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil" title="cerita motivasi">cerita motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil" title="kata kata motivasi setelah lama tidak bertemu">kata kata motivasi setelah lama tidak bertemu</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.107 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/jadilah-seperti-pensil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Laki-laki Biasa</title>
		<link>http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa</link>
		<comments>http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Laki-laki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussupriatna.com/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><img src="http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2007/12/morozov-dsc03034.jpg" alt="" width="225" height="167" /><p class="wp-caption-text">Cinta laki-laki biasa</p></div>
<p>Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.</p>
<p>Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.</p>
<p>Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.<span id="more-402"></span></p>
<p>Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!</p>
<p>Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.</p>
<p>Kamu pasti bercanda!</p>
<p>Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.</p>
<p>Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!</p>
<p>Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.</p>
<p>Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!</p>
<p>Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.</p>
<p>Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?</p>
<p>Nania terkesima.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.</p>
<p>Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!</p>
<p>Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!</p>
<p>Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata &#8216;kenapa&#8217; yang barusan Nania lontarkan.</p>
<p>Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.</p>
<p>Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.</p>
<p>Tapi kenapa?</p>
<p>Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.</p>
<p>Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.</p>
<p>Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!</p>
<p>Cukup!</p>
<p>Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?</p>
<p>Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak &#8216;luar biasa&#8217;. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.</p>
<p>Mereka akhirnya menikah.</p>
<p>***</p>
<p>Setahun pernikahan.</p>
<p>Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.</p>
<p>Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.</p>
<p>Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.</p>
<p>Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.</p>
<p>Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.</p>
<p>Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!</p>
<p>Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.</p>
<p>Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.</p>
<p>Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!<br />
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?</p>
<p>Rafli juga pintar!<br />
Tidak sepintarmu, Nania.</p>
<p>Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.</p>
<p>Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.</p>
<p>Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!<br />
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.</p>
<p>Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.</p>
<p>Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.</p>
<p>Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..</p>
<p>Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.</p>
<p>Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!</p>
<p>Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.</p>
<p>Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!</p>
<p>Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.</p>
<p>Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.<br />
Cantik ya? dan kaya!</p>
<p>Tak imbang!</p>
<p>Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.</p>
<p>Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.</p>
<p>Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.</p>
<p>Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!</p>
<p>Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.</p>
<p>Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.</p>
<p>Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.</p>
<p>Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.</p>
<p>Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.</p>
<p>Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.</p>
<p>Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.</p>
<p>Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.</p>
<p>Dokter?</p>
<p>Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.</p>
<p>Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?</p>
<p>Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.</p>
<p>Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.</p>
<p>Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.</p>
<p>Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.</p>
<p>Pendarahan hebat!</p>
<p>Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.</p>
<p>Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.</p>
<p>Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.</p>
<p>Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.</p>
<p>***</p>
<p>Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.</p>
<p>Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.</p>
<p>Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.</p>
<p>Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..</p>
<p>Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.</p>
<p>Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.</p>
<p>Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,</p>
<p>Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.</p>
<p>Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.</p>
<p>Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.</p>
<p>Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.</p>
<p>Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.</p>
<p>Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.</p>
<p>Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.</p>
<p>Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?</p>
<p>Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.</p>
<p>Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.</p>
<p>Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.</p>
<p>Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.</p>
<p>Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!</p>
<p>Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.</p>
<p>Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!</p>
<p>Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.</p>
<p>Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?</p>
<p>Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?</p>
<p>Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.</p>
<p>Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.</p>
<p>Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.</p>
<p>Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..</p>
<p>- Asma Nadia -</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="cerita motivasi">cerita motivasi</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="motivasi diri">motivasi diri</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="Perkenalkan diri Anda pada teman Anda abang adik atau guru">Perkenalkan diri Anda pada teman Anda abang adik atau guru</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="kalimat motivasi hidup">kalimat motivasi hidup</a></li><li><a href="http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa" title="kata motivasi cinta">kata motivasi cinta</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.921 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussupriatna.com/motivasi/cinta-laki-laki-biasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

